Dibagi Dua Kloter, Peserta Pelatihan Ekonomi Syariah Berangkat ke Saudi Arabia
Jakarta l Badilag.net
Akhirnya 40 peserta pelatihan ekonomi syariah tiba di Saudi Arabia. Dibagi dalam dua kelompok terbang, 17 orang berangkat pada Senin (14/5) dan 23 orang lainnya berangkat pada Selasa (15/5).
“Rombongan menggunakan pesawat Cathay Pasific,” kata Machrus Abdurrahim, staf khusus Dirjen Badilag bidang kerjasama luar negeri untuk kawasan Timur Tengah.

Baik kloter pertama maupun kloter kedua berangkat pada jam yang sama. Pesawat mulai take off dari bandara Soekarno-Hatta pada pukul 8.20 WIB, lalu transit di Hongkong pada pukul 14.10 waktu setempat. Dua jam kemudian, mereka langsung bertolak ke Riyadh.
“Mereka tiba sekitar pukul 21 waktu Riyadh atau pukul 1 WIB dini hari,” ungkap Machrus.
Sesampai di Riyadh, para peserta pelatihan disambut pihak Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud dan KBRI di Riyadh. Untuk keperluan itu, atase KBRI bidang Pendidikan dan Kebudayaan sudah berkoordinasi langsung via telepon dengan Dirjen Badilag pada Senin 14 Mei 2012. Pihak KBRI juga akan senantiasa membantu para peserta pelatihan selama berada di Riyadh.
Sesuai agenda, para peserta pelatihan itu akan berada di Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud Riyadh selama lebih dari sebulan. Meski fokus pelatihan adalah ekonomi syariah, tapi para peserta juga mempelajari sistem hukum dan peradilan Saudi Arabia.
Pelatihan kali ini merupakan pelatihan angkatan kedua, setelah angkatan pertama melakukan pelatihan serupa pada tahun 2008. Saat itu peserta pelatihan berjumlah 38 orang. Mereka seluruhnya hakim.
Pesan Tuada Uldilag
Ahad malam, di sebuah hotel di Jakarta, para peserta mendapat tausiyah khusus dari Tuada Uldilag Mahkamah Agung Andi Syamsu Alam. Ia didampingi Dirjen Badilag Wahyu Widiana, para pejabat eselon II Badilag, serta Kabag Sekretris Pimpinan MA Hasbi Hasan.
Tuada Uldilag berpesan agar para peserta betul-betul menjaga nama baik Mahkamah Agung, khususnya peradilan agama. Bagaimanapun, meraih kepercayaan adalah hal yang sulit, apalagi dari negara seperti Saudi Arabia. Kesempatan yang diberikan Kerajaan Saudi Arabia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kemajuan institusi.
“Jangan sampai angkatan kedua ini menjadi angkatan terakhir, gara-gara kegagalan para peserta membawa diri selama mengikuti pelatihan di Saudi Arabia. Hargailah ‘bantuan’ ini. Kalau sampai tidak ada lagi angkatan ketiga, maka dosanya ditanggung oleh semua peserta angkatan kedua ini,” kata Tuada Uldilag.
Tuada Uldilag juga mengingatkan agar para peserta pelatihan menjaga perilaku selama melakukan pelatihan di Universitas Ibnu Saud Riyadh. Mereka juga diminta untuk menghormati tradisi bangsa Arab, berlaku sopan, serta menghargai para pemimpin dan dosen di universitas.
Kerjasama dan kekompakan para peserta juga ditekankan Tuada Uldilag. “Jaga persaudaraan sesama peserta, saling membantu, saling mengingatkan karena membawa nama baik Peradilan Agama,” tuturnya.
Selain itu, para peserta juga diharapkan untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya dengan cara praktik. “Karena para peserta adalah praktisi, bukan teorisi. Seperti praktik langsung di lembaga peradilan, di perbankan, pasar modal dan sebagainya,” ungkapnya.
Di ujung tausiyahnya, Tuada Uldilag berpesan agar para peserta dapat mengikuti jejak delegasi peradilan agama yang berkunjung ke Australia beberapa tahun lalu.
“Kalau dulu tim delegasi Indonesia ke Australia menghasilkan Peradilan Agama sebagai peraih prestasi IT terbaik dari semua lingkungan peradilan, maka tim delegasi yang ke Riyadh diharapan menghasilkan putusan-putusan hakim peradilan Agama yang semakin baik,” tandasnya.
Akan ditengok Ketua MA
Dirjen Badilag mengungkapkan, pelatihan kali ini merupakan hasil dari kerjasama yang terus dibina dan ditingkatkan oleh peradilan agama.
Pelatihan ini juga mendapat respon yang sangat positif dari pimpinan Mahkamah Agung. “Rencananya, Ketua Mahkamah Agung RI akan meninjau langsung pelatihan di Riyadh,” kata Dirjen Badilag.

Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama Purwosusilo menambahkan, para peserta pelatihan merupakan orang-orang terpilih dan pilihan itu sudah tepat.
“Peserta diklat sudah sangat bagus baik dari komposisi maupun kompetensi. Ada dari wilayah yang berbeda-beda yang cukup mewakili, ada hakim tinggi, ketua dan wakil ketua PA, dan ada juga hakim-hakim junior yang menguasai bahasa Arab,” ungkap Purwosusilo.
Sementara itu, kepada para peserta pelatihan, Sekretris Pimpinan MA Hasbi Hasan memberi saran agar dibentuk kepengurusan supaya pelatihan dapat berlangsung maksimal. Hal ini berkaca dari pengalamannya selama menjalani pelatihan angkatan pertama pada 2008 lalu.
Menurut Hasbi Hasan, kepengurusan itu terdiri dari Penasihat, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, Juru Bicara, Wakil Juru Bicara, Bidang Ibadah, Bidang Akademik, Bidang Kesehatan, serta Bidang Dokumentasi dan Berita.
(Ibnu Abdurrahim) | Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 16659 | 61 | | Rab. 19 | 15 | 0 | | Sel. 18 | 18 | 0 | | Sen. 17 | 17 | 0 | | Ming. 16 | 12 | 0 | | Sab. 15 | 10 | 0 | | Jum. 14 | 13 | 0 |
|
Comments
Alhamdulillah...semoga semua bentuk anugerah Allah Swt akan senatiasa berdampak pada peningkaatn dan perbaikan kita semua... :-)selamat buat semua...
Syukron wal'afwu
Kami yang berada di tanah air terus memantau kegiatan teman2 semua selama berada di Arab saudi, untuk itu seksi bidang dokumentasi dan berita sangat diharapkan dapat terus mengirimkan berbagai kegiatan dan ilmu yang diperoleh selama pendidikan hal ini sangat bermanfaat bagi kami semua.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Pak Hasbi Hasan sebagai peserta senior kekompkan tim dengan berbagi tugas sangat besar manfaatnya dan ini perlu dimenej dengan organisasi yang handal. Selamat berbahagia semoga bisa diakhiri dengan umrah dan ziarah ke makam Rasulullah saw.