|
Ke Kantor Naik Kereta Api dan Ojek
Ketika Badilag masih berkantor di Pegangsaan Barat, Menteng, jika sopir saya berhalangan masuk kantor, saya seringkali ke kantor naik Kereta Api (KA) dan Ojek speda motor. Demikian pula pulangnya. Sedangkan setelah pindah kantor ke gedung baru di Jalan Ahmad Yani beberapa bulan ini, saya belum pernah lagi naik KA dan ojek, soalnya sopir saya belum pernah absen masuk kantor.
Biasanya, kalau sopir setia saya, H.Dadang Syarif, biasa dipanggil Cile, berhalangan masuk kantor, saya tidak nyopir sendiri atau memanggil sopir kantor lainnya yang rumahnya sangat jauh dari rumah saya. Saya biasanya naik KA.
Dari rumah, saya menuju Stasion Sudimara, diantar anak saya menggunakan mobil atau sepeda motor, sekitar 10 menit. Kalau anak saya tidak ada, saya naik Ojek. Dari Sudimara ke Manggarai lewat Tanah Abang menggunakan KA, antara 30 sampai 40 menit. Sedangkan dari Manggarai ke kantor, saya menggunakan lagi Ojek sekitar 5 menit.
Saya menikmati naik KA dan Ojek itu, sebab banyak keuntungan yang saya peroleh jika dibandingkan dengan naik Bis atau Taksi. Pertama, dengan naik KA dan Ojek, waktu yang diperlukan sangat singkat. Kurang dari 1 jam sudah sampai kantor. Sementara kalau pakai Bis atau Taksi bisa 2 sampai 2 ½ jam. Alasan hemat waktu itulah alasan yang paling pokok mengapa saya memilih naik KA dan Ojek.
Kedua, keamanan dan kenyamanan naik KA relatif lebih baik dibandingkan dengan naik Bis, apalagi dibandingkan dengan nyopir sendiri. Naik Bis, pasti berdesak-desakan, kurang aman dan sama sekali tidak nyaman, sehingga kalau dipaksakanpun, pastilah merusak muru’ah, “masa seorang Dirjen naik Bis berdesak-desakan”. Nyopir sendiri? Minta ampun. Bagi yang tidak biasa, nyopir 2 atau 2 ½ jam dalam suasana macet dan semrautnya kendaraan terutama para pengendara motor yang saling salip, akan membuat pikiran stress. Tapi kalau naik KA Eksekutif, bisa duduk, tidak berdesakan, berAC sejuk dan perjalanan cepat karena selama perjalanan ke Tanah Abang hanya berhenti satu kali di Stasion Palmerah. Semua ini membuat fikiran tenang.
Alasan lainnya, untuk variasi, tidak monoton naik mobil dinas terus. Dengan naik KA, anda bisa melihat kehidupan yang macam-macam, baik di dalam KA itu sendiri, di stasion atau di sepanjang perjalanan.
Di kiri-kanan jalan KA sejak Kebayoran Baru, Tanah Abang sampai Manggarai penuh dengan kehidupan masyarakat kota yang kurang beruntung dari segi ekonomis. Perkampungan sangat padat, dengan rumah-rumah sangat memprihatinkan, bahkan kehidupan yang sangat menyentuh hati, nampak jelas dari KA yang saya tumpangi. Semua ini menjadikan kita lebih bersyukur dan lebih berbagi. Mestinya.
Jadi, saya betul-betul menikmati perjalanan ke kantor dengan menggunakan KA dan Ojek, yang jauh berlawanan jika saya menyopir sendiri. Bahkan saya telah menjadikan naik KA dan Ojek sebagai suatu kebiasaan, jika Cile, sopir saya, berhalangan masuk kantor.
***
Tapi, nampaknya kebiasaan yang saya nikmati itu banyak orang yang menganggap aneh, mempertanyakannya bahkan melarangnya. Melihat komentar-komentar seperti itu, sayapun khawatir apa yang saya lakukan merusak muru’ah kantor. Saya tanya beberapa kawan dekat di kantor. Mereka pada umumnya menganggap tidak apa-apa. Hanya ada yang menyarankan agar dari Stasion Manggarai ke kantor jangan menggunakan Ojek karena mereka merasa tidak enak dengan para tamu. Saran itu saya ikuti, untuk menghormat pemberi saran. Akhirnya saya menggunakan taksi, walau harus lebih lama sedikit dibandingkan naik Ojek.
Fitri, karyawati Badilag, ceritera kepada saya bahwa dia menceriterakan kepada kakaknya tentang kebiasaan saya naik KA kalau ke kantor. Sang kakak menceriterakannya lagi kepada kawan—kawan sekantornya. Orang-orang kantor itu semula tidak percaya. “Masa ada Dirjen ke kantor naik KA?”, kata Fitri menirukan kawan-kawan sekantor kakaknya. Namun, katanya, setelah diyakinkan, merekapun mempercayainya. Saya tidak tahu apa komentar mereka setelah yakin ada seorang Dirjen naik KA ke kantornya.
Komentar kawan-kawan dari Badan Pengawas Mahkamah Agung lain lagi. Suatu ketika, ada tim dari Bawas yang akan mengaudit Badilag. Dalam ngobrol-ngobrol dengan staf Sekretariat ketika mereka datang pertama kali ke Badilag, mungkin ada yang memberitahu mereka bahwa saya sering naik KA ke kantor.
Dalam kesempatan tim Bawas ini melapor kepada saya bahwa mereka akan mengaudit Badilag, mereka sempat mempertanyakan kebiasaan saya itu. “Saya dengar, kalau ke kantor Pak Dirjen sering naik kereta api. Apa iya Pak?”, tanya salah seorang dari mereka kepada saya. Lalu saya iyakan. “Memang kenapa?’, tanya saya datar. “Sebaiknya Pak Dirjen tidak menggunakan Kereta Api. Kurang sesuai dengan kedudukan Bapak”, jawabnya lagi. “Lha, wong saya menyenanginya. Kereta itu berAC, tidak berdesakan, saya duduk dan hanya sekitar 40 menit di jalannya. Padahal kalau pakai mobil sendiri, macet, membuat stress dan lama. Bisa sampai 2 ½ jam”, kata saya meyakinkan mereka. “Maksud saya, khawatir keamanan Bapak kalau naik KA”, katanya lagi. Saya jawab, insya Allah aman. Siapa sih masyarakat umum yang kenal saya. Saya kan bukan orang terkenal. Kalaupun kenal, insya Allah mereka baik-baik. Saya tidak takut atau malu jumpa orang yang kenal ketika saya di KA atau sedang naik Ojek
Mengapa saya naik KA dan ojek, alasan saya sederhana dan pragmatis, karena aman, nyaman dan jauh lebih cepat sampai ke kantor dibandingkan dengan nyopir sendiri, pakai Bis atau Taksi.
Kebiasaan pragmatis dan efisien sangat didambakan di dunia modern. Saya seringkali melihat atau mendengar kebiasaan-kebiasaan pejabat, guru besar atau para eksekutif di negara maju yang biasa menggunakan alat transportasi massal, asalkan aman dan nyaman. Merekapun biasa melakukan sendiri pekerjaan yang dianggap akan lebih efisien dan efektif jika dilakukan orang lain, yang mungkin dilihat dari kacamata kita, kurang pantas mereka lakukan.
Saya tidak melihat bahwa apa yang saya lakukan dapat merusak citra saya sebagai Dirjen atau mengurangi wibawa institusi tempat saya bekerja. Yang saya lakukan betul-betul karena kepraktisan dan efisiensi. Saya tidak mengerti kalau apa yang saya lakukan itu masih merupakan hal yang aneh bahkan menimbulkan pertanyaan orang. Sayapun tidak tahu, apakah kita masih berjiwa feodal, mengkultuskan pangkat, jabatan dan kekayaan, atau saya sendiri yang tidak tahu etika, melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan. Kata Ebit G. Ade, mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang. (WW).
| Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 2598 | 113 | | Kam. 17 | 3 | 0 | | Rab. 16 | 3 | 0 | | Sel. 15 | 5 | 0 | | Sen. 14 | 4 | 0 | | Ming. 13 | 3 | 0 | | Sab. 12 | 1 | 0 |
|
Comments
Semoga dapat dijadikan suri tauladan bagi pembaca artikel ini.
Pangkat dan jabatan bukanlah penentu derajat seseorang, kualitas imanlah yang membedakan derajat qt di mata Allah SWT.
Suskes sll buat pak dirjen, kami kan sll mendukung karya terbaik pak dirjen mewujudkan peradilan yang berkualitas
Lewat media ini saya sampaikan :
Pertama. Saya apresiasi dengan adanya "Pojok Pak Dirjen" ini. Karena Pojok Pak Dirjen Ini sebagai media untuk lebih dekat dan lebih kenal lagi kami warga Badilag dengan buah pikiran, tindakan dan ide-ide brillian Bapak yang barangkali bisa kita diskusikan lebih lanjut.
Kedua. Ke kantor Bapak naik KA dan ojek adalah suatu hal yang perlu diapresiasi sekaligus ditiru karena alasannya yang logis, yaitu faktor keamanan, kenyamanan dan penghematan waktu.
Ketiga. Saya mengusulkan, bagaimana dalam tulisan berikutnya Bapak juga memberikan Tips semangat buat kami warga Badilag sehingga Semangat Bapak terus bergelora dan ditularkan kepada kami.
Keempat. Semoga Pojok Pak Dirjen ini sebagai wahana saling tukar pikiran antara Pimpinan Badilag dengan warga Badilag sehingga melahirkan ide-ide brilian yang aplikatif dan variatif untuk dilaksanakan di Badilag. Semoga Pojok ini sangat bermanfaat buat semua. Amin !
Yang pasti banyak pencerahan yg dapat kami petik dari Menu Pojok pak Dirjen ini... Semoga Alloh memberkahi...
kedua dengan cerita bapak semoga semangat bekerja bapak yang penuh semangat bisa menjadi contoh unutk kita semua .
yang ketiga semoga yang baca bukan warga PA saja tetapi presiden , menteri perhubungan dan dirut PT KAI sehingga moda transportasi masal khususnya kreta api makin baik, dan warga PA yang merupakan kreta mania dapat tersenyum sampai di kantor dan di rumah karena kretanya nyaman gak desel deselan karena maaf pak sekarang Kereta semakin jauh dari nyaman jadi maaf kalo warga PA yang sampe kantor agak lesu karena kretanya tambah gak nyaman aja, maaf kalo jadi curhat hehe.
insyaallah tidak mengurangi muru'ah, justeru kami semakin hormat, mengetahui hal ini jadi terharu,semoga kami dapat meneladani cara berfikir Pak Dirjen yang efektif praktis dan tepat sasaran.
Bagi Pak Dirjen, naik kendaraan apapun tetaplah ia Dirjen, Dirjen yang pantas untuk diteladani.
Shadaqta, wasa'daika...!
Semoga selalu lancar dan selamat di jalan, tetap dikaruniai kesehatan dan kemampuan buat menjadikan Badilag sebagai ' Agent and leader of change' dalam 'Reformasi Birokrasi' dan 'Life Style' para Pejabatnya.
Wassalam wr.wb.
Membaca tulisan pak dirjen di atas, jujur saya semakin menghormati beliau, karena sikap beliau mirip Rasulullah saw yang di waktu senggang suka menyapu rumah dan mencuci sendiri, padahal kala itu baginda sedang di puncak kekuasaan sebagai pemimpin madinah. Kalau ada yang menganggap aneh, itu hal lumrah. Sebab, mengutip Anis Baswedan, "kalau ada 1000 orang melihat kita maka akan ada 1000 perspektif tentang diri kita."
Pandangan manusia yang kita buytuhkan sangat adalah yang sejalan dengan pandangan Yang Maha Kuasa, kalau tidak sejalan dengan pandangan YMK, biarkanlah berlalu saja. wassalam
Saya apresiasikan tindakan pak Dirjen sebagai sebuah kisah inspiratif seperti yang dilakukan Khalifah Abu BAkar yang tidak mau menikmati fasiitas untuk Khalifah karena takut memakan yang tidak hak.
semoga pak Dirjen dan kita semua selalu sukses
barokallahu lak...
Di Jepang dan negara-negara eropah yang pernah saya kunjungi, banyak pejabat yang naik sepeda dan naik kendaraan umum seperti bus ataupun kereta api, itu biasa. Jadi saya juga ada keinginan seperti kebiasaan pak Dirjen. Jadi kalau dah engga jadi Dirjen gak kaget lagi naik ojeg atau kereta api.
badilag maju, berguru dengan pak wahyu
Perjalanan bapak tentu tak kalah dibanding perjalanan Dahlan Iskan, andai perjalanan bapak menjelajah PA-PA bapak tuturkan dalam tulisan, tentu menjadi penyemangat bagi kami untuk bersama-sama mengembangkan peradilan agama.
Terima kasih tulisan pojoknya..ruh yang ada dalam tulisannya menjadi kami semakin bersemangaaaaaaattttt!!!
semoga Allah selalu melindungi dan memberkahi dalam setiap aktifitas bapak.
"M A N T A P"
Krn sesuatu yang baik sudah pasti benar.
" mobil itu flatnya merah". tapi terkadang saya bawa juga sebulan sekali....