Jumat, 25 April 2014 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!








Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Kegiatan Rapat Konsultasi Evaluasi Realisasi Anggaran Triwulan I tahun 2014 dan Penyusunan Renja 2015 | (23/4)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 5 | (17/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Diklat Hakim Ekonomi Syari'ah Tahun 2014 | (16/4)
PENGUMUMAN : Ralat Perubahan Tempat Kegiatan Bimbingan Teknis Administrasi Peradilan Agama Angkatan II tahun 2014 | (15/04)
PENGUMUMAN : Permohonan Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun 2014|(14/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Administrasi Peradilan Agama Angkatan II | (11/4)

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Pelatihan Pemantapan Kode Etik dan Perilaku Hakim Dari Komisi Yudisial | (11/4)
PENGUMUMAN : Format BAS dan Putusan | (8/4)

PENGUMUMAN : Hasil Rapat Pimpinan dan TPM Mahkamah Agung RI | (8/4)
PENGUMUMAN : Penulisan Nama, NIP dan Tempat/Tanggal Lahir dalam Aplikasi SIMPEG Online | (1/4)
PENGUMUMAN : Optimalisasi Aplikasi SIADPTA Plus | (27/3)

PENGUMUMAN : Verifikasi dan Validasi Data Kepegawaian 2014 | (21/03)
VIDEO : Kuliah Berseri Peradilan Agama -- Seri 4 | (21/03)
PENGUMUMAN : Usulan Rencana Kinerja Tahunan DIPA 04 Ditjen Badilag | (21/03)
VIDEO: Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 3 | (17/3)
PENGUMUMAN :
Pemanggilan Peserta Sosialisasi Hukum Acara Ekonomi Syariah (KHAES) | (17/3)
PENGUMUMAN : Pembaharuan Data SDM Berbahasa Asing | (17/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Workshop Bagi Hakim Pengadilan Agama | (14/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Peningkatan Tenaga Teknis Pemberkasan Perkara Kasasi/PK di Bandar Lampung | (14/3)
SURAT EDARAN : Pemberitahuan (PENIPUAN) | (14/3)




Tambahkan ke Google Reader
Hakim Perempuan di Peradilan Agama, Riwayatmu Kini (23/4) PDF Cetak E-mail
Seputar Ditjen Badilag - berita kegiatan
Senin, 23 April 2012 12:52

Hakim Perempuan di Peradilan Agama, Riwayatmu Kini


Peradilan agama telah menjadi salah satu tempat para Kartini di era modern untuk mengaktualisasikan diri. Terbukti, kuantitas dan kualitas mereka tidak bisa dipandang sebelah mata.

H. Zaini Ahmad Noeh, mantan pejabat Direktur Peradilan Agama, suatu hari di bulan Desember 1990 menumpahkan ‘protesnya’. Ia keberatan terhadap sebagian isi buku"Prof. K.H. Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam".  Di buku itu disebutkan bahwa Ibrahim Hosen adalah ulama Indonesia yang pertama kali membolehkan wanita menjadi hakim Pengadilan Agama.

“Pengangkatan wanita sebagai hakim anggota Pengadilan Agama telah dimulai sejak 1956,” kata H. Zaini Ahmad Noeh, di majalah Tempo.

Itu terjadi, ungkap H. Zaini, semasa K.H. Moehammad Djoenaidi menjabat Kepala Biro Peradilan Agama. Jumlahnya, waktu itu, sekitar dua puluh, yang sebagian besar dari tokoh-tokoh wanita peserta kursus penasihat perkawinan yang diselenggarakan oleh Kowani, Biro Peradilan Agama, dan Jawatan Urusan Agama.

“Tapi mereka harus lulus ujian di bidang agama. Sedangkan yang tidak lulus diangkat menjadi eksponen BP4 setempat,” imbuhnya.

Pengangkatan beberapa wanita sebagai anggota hakim pada peradilan Agama juga dicatat Daniel S. Lev, akademisi asal Australia yang mengajar di Amerika. Pada 1964, ungkap Daniel S. Lev, terdapat lima belas anggota honorer dan satu anggota tetap di Tegal, utara Jawa Tengah.

Menurut H. Zaini, pengangkatan ini menuai protes dari kalangan Islam. “Tapi para pejabat direktorat menjawab dengan alasan darurat, antara lain, tidak ada hakim yang memenuhi syarat,” ungkapnya.

H. Zaini menambahkan, tidak sempurnanya persyaratan yang ada pada kebanyakan hakim pria, ini bertentangan dengan hukum Islam. “Pengangkatan hakim wanita itu dapat terlaksana karena, jelas, tidak mengakibatkan kemudaratan terhadap masalah-masalah penting,” tegasnya.

Jadi, tandas H Zaini, pengangkatan wanita sebagai hakim anggota Pengadilan Agama terjadi sekitar tujuh tahun sebelum Prof. K.H. Ibrahim Hosen kembali dari Mesir. Atau, sekitar dua puluh lima tahun sebelum pengangkatan doktoranda-doktoranda jurusan Syari'ah IAIN menjadi hakim agama pada 1974.

***

Setelah 56 tahun ikut mewarnai eksistensi peradilan agama, bagaimana riwayat para hakim perempuan kini?

Berdasarkan data yang diperoleh badilag.net dari laporan tahunan Ditjen Badilag tahun 2011, jumlah hakim perempuan sekitar 20 persen dari total hakim yang bertugas di peradilan agama. Dari 3.687 hakim di tingkat pertama dan banding, yang berjenis kelamin perempuan hanya berjumlah 774 orang.

Bila dirinci, 738 di antara 774 hakim perempuan itu bertugas di pengadilan tingkat pertama, dan 36 orang bertugas di pengadilan tingkat banding.

No

Jenis Kelamin

Tingkat Pertama

Tingkat Banding

Jumlah

1.

Laki-laki

2.442

471

2.913

2.

Perempuan

738

36

774

 

Jumlah

3.180

507

3.687

 

Para perempuan di peradilan agama justru lebih eksis sebagai tenaga kepaniteraan. Tercatat, dari 3247 tenaga kepaniteraan, 1183 orang atau sekitar 35 persen di antaranya merupakan kaum hawa.

Para perempuan juga tidak mau ketinggalan di bidang kejurusitaan. Dari 1167 tenaga kejurusitaan di peradilan agama, 297 orang atau lebih dari 20 persen di antaranya adalah perempuan.

Sementara itu, bila dilihat dari seluruh SDM di peradilan agama—baik tenaga teknis maupun tenaga non-teknis—keberadaan kaum hawa sangat layak diperhitungkan. Sekitar sepertiga aparat peradilan agama adalah kaum hawa. Dari 11.743 tenaga teknis dan non-teknis, yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 3.944 orang.

Itu tadi dari segi kuantitas. Bagaimana bila dilihat dari segi kualitas?

Sejauh ini belum ada data yang secara presisi memetakan golongan/ruang dan pangkat 507 hakim perempuan di peradilan agama. Selain itu, belum ada ada laporan yang secara spesifik merinci penempatan, pencapaian dan prestasi para pengadil berjilbab itu.

Meski demikian, dapat diketahui bahwa sejumlah hakim perempuan telah menduduki posisi pimpinan, baik sebagai ketua maupun wakil ketua pengadilan tingkat pertama. Sebut saja misalnya Ketua PA Lamongan, Ketua PA Kab Madiun dan Ketua PA Muara Bulian.

***

Dalam hal berkiprah di lembaga peradilan, para perempuan di Indonesia bernasib lebih mujur ketimbang para perempuan di negara-negara Islam atau yang berpenduduk mayoritas muslim lainnya.

Di negeri ini, dengan mendasarkan diri pada pendapat fuqoha yang menggunakan metode qiyas syumuli, perempuan dapat menjadi pemimpin, hakim atau mufti di pengadilan.

Sebagaimana disimpulkan Dr. Djazimah Muqoddas dalam disertasinya, sebagian negara Islam masih bersikap diskriminatif dan cenderung mengharamkan perempuan sebagai pemimpin atau hakim.

“Disebabkan masih kuatnya budaya patriarki dalam pemikiran, tradisi sosial, budaya, politik dan sistem hukum,” ungkap hakim tinggi PTA Yogyakarta itu.

Sebagai gambaran, pada tahun 2010 Malaysia hanya memiliki dua hakim perempuan. Arab Saudi dan Mesir bahkan sama sekali tidak punya hakim perempuan.

Kemarin, Lily Ahmad—hakim PA Sleman—bercerita bahwa baru-baru ini pihaknya menerima kunjungan delegasi dari Malaysia. Mereka ingin belajar mengenai hakim perempuan di peradilan agama.

"Yang datang ke Yogyakarta adalah dosen dari Internasional Islamic University Malaysia, yaitu Prof. Dr. Farid Sufian Bin Shuaib dan Dr.Tajul Aris Bin Ahmad Bustami. Mereka cukup takjub dengan kiprah hakim Kartini di Indonesia," ungkap Lily Ahmad.

(hermansyah)

TanggalViewsComments
Total694564
Kam. 24100
Rab. 2330
Sel. 2250
Sab. 1930
Jum. 1810
Kam. 1740
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# daswir tanjung 2012-04-23 13:05
sekarang tidak masalah lagi Hakim perempuan, Undang undang mengenai Peradilan tidak ada membedakan antara laki - laki dan Perempuan,asal ada kemampuan dan memenuhi syarat yagng ditentukan dan lulus Test, bahkan sudah banyak Hakim Prempuan yg memegang pimpinan baik di MA, PT/PTA dan Peradilan Tingkat pertama.sekarang yg diperlukan punya Integritas tinggi,kejujuran ,dan moral disamping kecerdasan dan kepintaran.
Reply
 
 
# Masrinedi-PA Painan 2012-04-23 13:07
Kita doakan semoga Ibu-ibu Hakim tetap istiqamah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dan terus bersyukur kepada Allah atas nikmatnya ibu-ibu dapat kesempatan menjadi Hakim.
Semoga Jabatan Hakim tersebut menjadi 'ladang amal' buat menuju 'JANNAH' AMin !!!!!
Reply
 
 
# Asni Falah PTA BDL 2012-04-23 13:12
Secara empirik, keberadaan hakim perempuan di Indonesia banyak yang dapat diandalkan dan bersaing dengan hakim pria dalam bidang akademis dan penguasaan hukum acara. Tetapi "terkadang" mereka sendiri yang membatasi kemampuan mereka, sehingga ketika ada peluang untuk menjadi pimpinan, terbentur karena ikut suami atau karena anak-anak. Begitu juga apabila memerlukan waktu padat dalam suatu kegiatan, mereka tidak bisa sehingga peluang untuk itu terbatas buat mereka.Juga penguasaan emosional dalam bersidang sangat rentan bagi mereka, karena seorang hakim harus bebas dari rasa emosional ketika mengadili, kecuali dengan hati nurani.
Reply
 
 
# Mulawarman, Yogyakarta 2012-04-23 13:20
Hakim Indonesia (baca Peradilan Agama) perlu bersyukur karena komunitas wanita sangat dihargai dan bebas berkompetisi dengan kaum pria, sekadar diketahui di MAHKAMAH SYARIAH MALAYSIA belum ada hakim wanita (semoga kartini menjadi hakim yang baik dan bisa berkualitas).
Reply
 
 
# M.Yusuf Waka PA.Kendari 2012-04-23 13:25
Di Indonesia semua orang punya hak yang sama untuk berekspresi sesuai bidang keahlian masing-masing.Sama halnya menjadi Hakim semua orang punya hak yang sama baik laki-laki maupun perempuan,siapa yang memenuhi syarat maka dialah yang punya kesempatan.Persoalan kualitas tergantung amal perbuatan masing-masig...
Reply
 
 
# Nurul M. Kab. Malang 2012-04-23 13:52
Kwantitas yang ada semoga memacu dan meningkatkan kwalitas diri.., sehingga sbg hakim perempuan mampu membuktikan pada khayalak bahwa qt memang pantas mengemban amanah nan agung itu, semoga intergritas,IQ, EQ dan SQ selalu berjalan paralel mengawal tugas qt.
Reply
 
 
# s.yanto.tn.PTA-Kendari 2012-04-23 13:53
Ada hadits Rasulullah.SAW."Syurga itu berada dibawah telapak kaki ibu". Jd unt sekarang tdk sj dibawah telapak kaki ibu kandung, tetapi jg berada dibawah telapak kaki ibu hakim (insyaallah).

Hakim ada 3 gol. Dua masuk neraka dan satu masuk syurga. Hakim yg memutus perkara dg adil dan benar sesuai dg ilmu pengetahuannya ia akan masuk syurga. Hakim yg dmk bisa masuk syurga. Nah, insyaallah atas putusannya para pihak tsb merasa mendapat keadilan dan ketentraman dlm keluarganya, sehingga mudah-mudahan mereka juga akan bisa masuk syurga. Amin!

Inilah yg maksud syurga jg bisa terjadi berada dibawah telapak ibu hakim. Oleh karena itu teruskan perjuanganmu para kaum hawa agar bisa beribadah dan beramal sholeh lewat profesi sebagai hakim wanita.
Reply
 
 
# Riadh-Sengeti 2012-04-23 13:54
Ayo ibu2 hakim,jangan merasa minder,bukankah sudah lama digaungkan kesetaraan jender,tidak ada perbedaan antara laki dan perempuan,semangat!!!
Reply
 
 
# Syafii Thoyyib, PA Bantul - DIY 2012-04-23 14:16
Semangat utama Kartini, sebagaimana yang terdapat dalam tulisan-tulisannya adalah semangat menegakkan hak-hak utama perempuan, seperti hak atas pendidikan, kemandirian ekonomi, hak untuk tidak disakiti dan sikap protesnya terhadap budaya atau adat-istiadat yang mendiskriminasi perempuan". Dan tentunya, termasuk hak menjadi hakim. Ayo kita dukung terus dan gelorakan semangat...KARTINI.
Reply
 
 
# RIJAL MAHDI PARIAMAN 2012-04-23 14:21
Disadari atau tidak, banyak wanita yang mampu untuk menjadi pemimpin, meskipun dalam hal-hal tertentu seoramg wanita dibatasi sesuai dengan kudratnya sebagai wanita, akan tetapi sebagai seorang manager tidak kalah hebatnya dari seorang laki-laki, bisa memimpin dengan baik. Kita juga sependapat bagi wanita yang telah memenuhi syarat untuk hal itu, kenapa tidak. Persoalannya kesempatan belum diberikan sepenuhnya kepada wanita. Selamat bagi ibu-ibu, jadilah wanita yang memiliki semangat Kartini. Amiiin
Reply
 
 
# Abinuwas PA Pkl 2012-04-23 14:30
Secara empirik meskipun kita telah dapat menerima keberadaan hakim wanita, namun kenyataanya terkesan "belum legowo" di dalam menerimanya. Lihat saja kenyataanya para hakim wanita kita belum sepenuhnya mendapatkan peluang yang sama untuk tampil memimpin PA meskipun memiliki kemampuan untuk itu; hal itu akan nampak jelas oleh kita manakala kita mau obyektif menelusurinya.Namun jangan berkecil hati bu Hakimah, istiqamahlah dalam berkarir, zaman akan berubah. amin...
Reply
 
 
# eska tmg. 2012-04-23 14:43
:P banyak atau sedikitnya hakim wanita, tidak masalah. yang penting bisa memberikan rasa keadilan bagi masyarakat pencari keadilan; :sigh:
Reply
 
 
# Irwan Rambe 2012-04-23 14:44
Saya melihat artikel ini memilki dua sisi yang tujuannya sama tajam :
Disatu sisi, lebih pada maksud meredam laju konsekwensi emansipasi pada jabatan-jabatan fungsional dan struktural dengan memberi pesan bahwa perempuan telah dapat menduduki Jabatan Ketua PA Lamongan, Madiun dan Muara Bulian dan hampir 15 % jabatan hakim di PA adalah perempuan selanjutnya dengan membandingkan kondisi di Malaysia dan Saudi Arabia;
Sisi tajam lainnya, data beberapa orang wanita yang menjadi Ketua Pengadilan Tingkat Pertama tersebut ( kalau tidak salah, belum ada Ketua Pengadilan Tinggi dan Hakim Agung wanita dari PA ) dan angka 774 hakim wanita dibanding 2.913 hakim pria adalah perbandingan yang jauh dari maksud " kesetaraan " ;
Kesimpulannya : dilingkungan Peradilan Agama, masih banyak yang tidak ihklas bila Pengadilan dipimpin oleh seorang wanita. Persoalannya bukan pada ketentuan dalam hukum Islam nya tapi ada pada " ego superioritas dan dominasi " sebagai karakter fitrah kaum pria ;
Reply
 
 
# Abd. Hafid-Makale 2012-04-23 14:48
Suatu hal yg tdk bisa dipungkiri eksisnya ibu2 yg ditakdirkan menjadi hakim bhw keberadaan anda akan membwa dampak positif kedepan
Reply
 
 
# Lily Ahmad- PA Yogya 2012-04-23 14:50
Senang membaca tulisan ini, semoga Kartini-Kartini di peradilan agama tidak kalah dibanding para Kartono.

Ohya sekedar tambahan, yang datang ke Yogyakarta adalah dosen dari Internasional Islamic University Malaysia, yaitu Prof.DR.Farid Sufian Bin Shuaib dan DR.Tajul Aris Bin Ahmad Bustami. Mereka cukup takjub dengan kiprah hakim Kartini di Indonesia. Sepertinya mereka akan segera "bergerak", dan bisa menjadi pioner potret hakim wanita.
Reply
 
 
# andi muliany hasyim 2012-04-24 02:08
Ibu lily maju terus, tingkatkan pengetahuan dan ethos kerja yang tinggi, u mampu tapi jangan kebablasan he he he
Reply
 
 
# # H.M.Idris Abdir, KPA Atambua NTT # 2012-04-23 14:51
Sebenarnya negara2 Islam yg mengharamkan wanita menjadi hakim hanya berpegang atas tradisi dan budaya saja, tapi sesungguhnya hukum Islam tlh memberikan peluang utk profesi itu bagi wanita tanpa diskriminasi dg laki2 : "Lirrijali nashibon mimmaktasabuu walinnisaai nashibon mimmaktasabna'" (Alquran). Beruntunglah kaum hawa di Indonesia yg bisa berbakti kpd negaranya utk bekerja sebagai profesi hakim.
Reply
 
 
# subhan. PA. Kuningan 2012-04-23 14:53
kedudukan laki-laki dan perempuan di mata Allah sama. di mata hukum sama. yang penting karya at amal sholeh. tapi tentu wanita tidak boleh meninggalkan tugas pokoknya.
Reply
 
 
# Syarifah Aini PA M. Bulian 2012-04-23 15:16
Kedudukan pria dan wanitakan memang sama dimata hukum, hanya saja dalam Alquran lebih ditegaskan bahwa laki-laki adalah peminpin dalam rumah tangga, tapi banyak juga perempuan yg lebih banyak berperan dalam rmh tangga, btw ada foto ibu ketua kamitu, beliau adalah perwujudan hakim wanita masa dulu dan masa depan ... selamat hari Kartini para wanita Indonesia, selamat kepada Hakim Wanita Indonesia :-)
Reply
 
 
# siti alosh farchaty 2012-04-23 15:18
selamat buat hakim-hakim wanita indonesia yang mempunyai dua sisi peranan dalam kehidupannya, di satu sisi hakim wanita smakin memberikan kontribusi yang positif buat penegakan hukum di indonesia dan di sisi sebaliknya memberikan pondasi yang kuat bagi kualitas keluarganya. khusus buat ibu ketua kami sebagai foto covernya Dra. LISDAR smoga smakin sukses dalam kepemimpinannya
Reply
 
 
# Siti Patimah 2012-04-23 15:21
Kasih Ibu tak bertepi, kasih ayah sepanjang jalan, begitulah ungkapan sebuah lagu... :-)
Terbukti sosok kepemimpinan seorang wanita tidak kalah tertinggal dengan pria, inilah sosok kartini masa kini dan masa depan..
Selamat Hari Kartini, sukses slalu buat ketua PA.Muara Bulian.. :-)
Reply
 
 
# Alimuddin M. Mataram 2012-04-23 15:24
Yang beda antara wanita dan pria sekarang cuma jenisnya, soal kecerdasan dan intelektualitas tidak sedikit mereka lebih dari pada kaum pria. Sebabnya, karena era sekarang nyaris tidak ada lagi pembatasan, berdasarkan jenis kelamin, untuk menuntut ilmu dan mengaktualisasikan diri.
Reply
 
 
# MASALAN BAINON 2012-04-23 15:27
Khoiron.... sungguh benar Sabda Rasululloh SAW: "Wanita adalah Tiang Negara"... Nyata sekali di PA.Muara Bulian...meski dipimpin oleh sosok seorang Ibu (Dra.Lisdar), namun PA.Muara Bulian selalu tampil Maju dengan berbagai Prestasi dan Prestisenya.... Semoga Alloh memberkahi...
Reply
 
 
# Akramuddin, PA Kendari 2012-04-23 15:28
Walaupun mayoritas mazhab (Syafi’i, Hanbali, dan Maliki ) tidak membolehkan perempuan menjadi hakim., namun di enam Negara seperti Sudan, Maroko, Syiria, Lebanon, Yaman, dan Tunisia, telah membolehkan perempuan menjadi hakim seperti pula dalam sejarah Islam, sejumlah sahabat perempuan dikenal pernah memerankan fungsi sebagai rujukan dalam hukum, layaknya seorang hakim, di antaranya ialah Aisyah RA, Ummu Salamah, Shafiyah, dan juga Ummu Habibah. Wallahu a’lam bish shawabi
Reply
 
 
# Lisdar PA Muara Bulian 2012-04-23 15:32
Sebagai Negara demokrasi yang menghargai kesetaraan jender, peran serta perempuan menjadi salah satu faktor dari kemajuan bangsa.Untuk itu di hari yang bersejarah bagi kaum perempuan, Sudah saatnya perempuan-perempuan untuk Indonesia dapat memperlihatkan eksistensinya. Perempuan indonesia menjadi harapan bangsa dan negara adalah ibu-ibu yang maju, mandiri, tegar dan cerdas.
Majulah hakim-hakim perempuan Indonesia .
Selamat Hari Kartini Ke- 133.
Reply
 
 
# BURNALIS BURHAN PA BATUSANGKAR 2012-04-23 15:53
Alhamdulillah, saya bangga sebagai seorang perempuan, banyak kita temui dalam berbagai bidang dan kesempatan banyak perempuan yang tidak kalah dibanding dengan kaum laki-laki, lihat saja Siti Aisyah r.a, RA. Kartini,Cut Nyak Dien. Dewi Sartika, Siti Manggopoh dll, beliau sempat meminpin peperangan dan memajukan kaumnya, cuma saja kesempataan itu yag belum berpihak kepada kaum hawa tersebut, kalau diuji kompetensinya belum tentu kalah, bahyak kita dapat anak-anak perempuan kita banyak yang jadi juara 1 di kelas ketimbang anak laki2 kita, saya juga pengen lebih maju, semoga Allah meredhainya, amin, tetap maju wahai kaumku, tertompang salam buat uniqu Lisdar Nur yg cuantiq n semakin awet aj, apa rahasianya uni ?, semoga uni diorbitkan pak Dirjen utk masa yang akan dtg krn ft uni udah dikantongi pak dirjen... amin smg..
Reply
 
 
# H. Abd. Rasyid A., MH. PA-Mojokerto 2012-04-23 15:55
Sebagai negara yg berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indoensia jauh lebih maju dibanding dg negara-negara Muslim dalam memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk menjadi hakim. Bahkan di Indonesia tidak ada diskriminasi antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam pengangkatan hakim, termasuk di lingkungan peradilan agama. Sukses buat wanita Indonesi.
Reply
 
 
# yayuk afiyanah-pa sengeti 2012-04-23 16:01
Bersyukurlah kita yang hidup di negara Indonesia yang sudah menerima adanya kesetaraan gender sehingga terbuka peluang bagi perempuan-perempuan Indonesia khususnya hakim-hakim perempuan untuk selalu berkiprah dalam mewujudkan kualitas diri dan menjadi penegak keadilan bagi masyarakat pencari keadilan.bersemangat terus wahai hakim perempuan.......
Reply
 
 
# Ayep sm PA Tasikmalaya 2012-04-23 16:36
Selamat para kartini PA, semoga dengan keberadaan kaum hawa di PA semakin berkibar pelayanan kepada masyarakat, karena kalau saya hitung-hitung, tenaga wanita lebih handal dari pada laki-laki, ulet, teliti dan sabar, karena itu mudah-mudahan semakin banyak kartini PA.
Reply
 
 
# Dadang Karim, PA Sumber 2012-04-23 16:49
dalam masalah tertentu, hakim wanita lebih 'bisa' menyelesaikan kasus rumah tangga yang diajukan kepadanya. Makanya, sama saja hakim itu pria atau wanita selama bisa menjalankan tugasnya dengan benar. tanpa harus meninggalkan tugas utamanya.
Reply
 
 
# BURNALIS BURHAN PA BATUSANGKAR 2012-04-23 17:09
Untuk pak DIRJEN ketahui, Hakim-hakim perempuan seperti foto covrer yang terpampang di atas masih banyak kita temui di PA-PA lain dengan harapan pak Dirjen bisa berkunjung ke PA-PA lain, sep. KOTA BUMI, PADANG, BUKITTINGGI, BATUSANGKAR, SIJUNJUNG, dll, sayang nya maasih banyak yang belum terjangkau, banyak pak Dirjen Hakim PA yang potensi n teruji
Reply
 
 
# Al Fitri Pengadilan Agama Tanjungpandan - Bangka Belitung 2012-04-23 17:24
Saatnya juga kita harus memikirkan agar hakim peradilan agama yang dari wanita bisa menjadi Hakim Agung, KPTA dan jabatan2 strategis lainnya MA dan Badilag, agar Kartini zaman modren ini bisa berkiprah....... :D
Reply
 
 
# ahid Lampung 2012-04-23 18:17
belum juga ada data resmi, bagaimana dengan pembaca badilag.net apakah kaum hawa juga banyak?
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2012-04-23 18:27
semoga tulisan ini dibaca oleh semua pihak, terutama team TPM, sehingga ibu-ibu hakim diberi kesempatan untuk menjadi KPA atau KPTA, insya allah ibu - ibu hakim akan mampu, bahkan mungkin keberhasilannya akan lain daripada yang lain.
Reply
 
 
# Ridhuan Santoso MS.Aceh 2012-04-23 20:25
Kita bersyukur di Pengadilan Agama bukan saja sebagai hakim tapi derajat sudah lebih baik lagi yaitu Hakim Wanita sudah banya yang jadi Ketua/Pimpinan.
Reply
 
 
# Abdul Rahman Salam, MH/PA Banggai Kepulauan 2012-04-23 21:40
Ummi, Ummi, Ummi, tdk akan ada kaum Hawa tanpa dirimu begitu juga sebaliknya, tidak ada lagi Dikotomi antara Hakim perempuan & Hakim laki-laki yg terpenting adalah Mempunyai Kemampuan, profesional dan bertanggungjawab... :zzz LIRRIJALI NASIBUN .....WALINNISAI NASIBUN ...... :zzz
Reply
 
 
# andi muliany hasyim 2012-04-24 02:12
Selamat menjalankan tugas para hakim kartini, bagi waktunya sedemikian rupa sehingga sukses dikantor juga sukses dalam keluarga terutama mendidik putra putri
Reply
 
 
# maharnis pta jayapura 2012-04-24 05:45
Dalam dunia Demokrasi, jenis kelamin tidak jadi hambatan dalam berkreasi, berinovasi baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, apalagi dihubungkan dengan hukum Islam, Rasulullah merupakan orang pertama melakukan emansipasi perempuan dalam mengangkat darjat kaum hawa.Untuk itu selamat buat kaum hawa yang sudah duduk diberbagai bidang lapangan pekerjaan di Pemerintahan Republik Indonesia.
Reply
 
 
# Drs.AUZAI 2012-04-24 07:05
Saya mendukung sekali kepada para hakim kartini, bagi waktunya sedemikian rupa sehingga sukses dikantor juga sukses dalam keluarga terutama mendidik putra putri, namun patut direnungkan bagi Hakim Kartini "Jangan menjadi Hakim dalam rumah tangganya"
Reply
 
 
# Taufik PA. Kupang 2012-04-24 07:57
Setelah membaca tentang keberadaan Hakim Wanita di Indonesia, saya merasa optimis bahwa hakim wanita kedepan akan sejajar dengan hakim laki-laki baik secara kuantitas maupun kualitas..............
Reply
 
 
# lilik muliana wk probolinggo 2012-04-24 08:18
kami sbg kaum hawa merasa bangga menjadi warga Indonesia yg begitu demokratis dalam memberikan peluang kpd semua bangsanya, smg peluang yg diberikan negara ini dpt menginspirasi para kartini dg mengabdikan diri pd negri ini dg penuh dedikasi, integritas,akuntable dan religiusitas shg bisa manfaat dunia akhirat.....
Reply
 
 
# Chrisnayeti, Badilag 2012-04-24 08:45
Para perempuan juga punya kemampuan dan kekuatan serta kepintaran yang tidak kalah dengan laki-laki. Jadi kesempatan perempuan jadi hakim atau jabatan lain bukan suatu kesalahan tapi suatu kewajaran. Yang penting tetap jalan sesuai dengan aturan dan amanah. Bersaing sehat untuk maju bagi laki-laki dan perempuan lebih baik dari pada saling mencari kekurangan dan kelemahan karena keduanya sama-sama memberi warna untuk peradilan agama. Dan ayo tunjukkan hakim perempuan dan laki-laki dapat bekerja sama untuk kemajuan peradilan agama.
Reply
 
 
# Rooney Fahmi 2012-04-24 08:54
Fakta yang tak terbantahkan, secara realitas Emansipasi wanita dan kesetaraan gender telah memberi ruang bagi kaum hawa utk membuktikan kualitasnya. Terbukti dari Kiprah Hakim-Hakim dan Pimpinan Wanita selama ini yang telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi kemajuan Pengadilan Agama seperti di PA. Muara Bulian dan banyak Pengadilan lainnya.
Selamat bagi "Kartini-Kartini" Pengadilan Agama..semoga selalu memberikan pencerahan dan kontribusi bagi kemajuan Pengadilan Agama.
Reply
 
 
# Asep Irpan Helmi 2012-04-24 08:54
perempuan juga kan sama dengan laki2, yag beda hanya qodratnya saja yang tak bisa diubah, yang lainnya sama baik dalam bekerja, karir, berpolitik dll, cuma saja kaum hawa masih sangat sedikit yang tampil daripada laki-laki, mudah2an ke depan kaum hawa lebih maju dan lebih berani lagi, karena mereka sangat ulet, rajin, telaten dan lebih berhati2. terimaksih Ibu, semangat terus hakim kartini Indonesia.
Reply
 
 
# Ufithriani.@PA.Soe 2012-04-24 09:47
BRAVO HAKIM INDONESIA....
SALUUTT UNT HAKIM PEREMPUAN INDONESIA, untuk mampu berperan dalam dunia peradilan saat ini adalah suatu hal yang wajar, selama perempuan dan laki2 mampu menempatkan diri sesuai porsi dan aturan yang ada...
Semoga Hakim Perempuan Indonesia dapat memberikan kiprahnya bagi INDONESIA!!
Reply
 
 
# Drs.H.A.Musa HSB,MH PA Sidikalang 2012-04-24 10:34
KAMI BANGGA DENGAN HAKIM-HAKIM KARTINI, KEMBANGKAN SAYAPMU MENGGAPAI PUNCAK KEJAYAAN MENDEKATI KESETARAAN DENGAN KAUM ADAMY, JADI pRESIDEN AJA SUDAH YANG LAIN ITU SUDAH KENISCAYAAN. BRAVO
Reply
 
 
# samsul bahri 2012-04-24 10:38
Samsul Bahri, PA SUbang
coba jangan latah menyebut kartini dalam konteks emansipasi wanita, karena Aisyah jauh lebih dahulu menjadi panglima jauh sbelum kartini. dan lagi kepahlawanan kartini itu karena didukung kepentingan belanda.. kartini dalam beberapa hal masih cong=dong ke penjajah. maka belanda mengunggulkan dia, pada hal di Aceh ada sultan wanita Shifiatuddin yang memimpin kerajaan... jadi jangan latah ikut-ikutan mengidolakan kartini...
Reply
 
 
# ali_syarif@Salatiga 2012-04-24 10:55
.. namun DR Abdul Karim Zaidan mengatakan tidak untuk perkara yg menyangkut pidana, berarti PA sdh lbh dahulu mentathbiqannya... "teruskan perjuangan mu wahai generasi-2 Aisyah Ummil mukminin!!" (wallohu a'lam bish showab)
Reply
 
 
# rohimah pagrt 2012-04-24 11:09
Para kartini peradilan agama kt patut bersyukur alhamdulillah dapat kepercayaan dan kesempatan berbakti pd nusa dan bangsa yg kt cintai dengan tetap berperan baik untuk lembaga dan keluarga .semoga kedepan akan lebih baik lagi.trima kasih kpd pr pejuang peduli hakimah.
Reply
 
 
# tasyacamila kotatasikmalaya 2012-04-24 11:21
selamat kepada para hakim perempuan yg sebagian telah rela jauh dr keluarga(suami d anak) smg tdk mnylhi "Pmbgian tgs yg telah ALLOH grskn, .....
Reply
 
 
# Nadimah PA.Bkl 2012-04-24 13:38
Alhamdullah, kita harus bersyukur,bahwa kita ditakdirkan sebagai kartini-kartini PA,tidak semua kartini mendapat kesempatan sebagai kartini2 PA, oleh karena itu wahai kartini2 PA, jaga dirimu,jaga kehormatan dan martabat sebagai kartini PA, namun jangan lupa juga tugas utama sebagai ibu pendidik putra-putri di rumah dan jadi istri yg soleha.
Reply
 
 
# Taufiq - PA Tbnan 2012-04-24 13:50
di PA kami baru2 ini ada angket pemilihan, diantaranya tentang pejabat/pegawai yang dianggap paling profesional. ternyata yang terpilih (mendapat suara terbanyak) adalah Hakim Perempuan. Selamat buat ibu2 hakim
Reply
 
 
# itna- PA.Gng Sugih 2012-04-24 14:08
Bravo...perempuan Indonesia, Teruslah berkarya dan berbakti untuk kemajuan bangsa, kodratmu sebagai wanita dan ibu tidak menjadi alasan untuk memperpanjang langkah melebihi kaum lelaki asal dilakukan dengan setulus hati...
Reply
 
 
# Hoho 2012-04-24 14:20
Selamat kepada hakim perempuan yang telah mendapat posrsi di negeri ini...
Reply
 
 
# Syamsulbahri PA Mks 2012-04-24 16:16
Termasuk perolehan harta warisan antara anak laki-laki dan anak perempuan bisa satu banding satu... ini bisa termasuk penemuan hukum progresif...
Reply
 
 
# KaMaLi SINGARAJAPA 2012-04-25 09:10
(SARAN DARI BAWAH) Dan hakim perempuan yang layak menjadi pemimpin itu saran kami..... jangan HAKIM PEREMPUAN yang sedikit-sekikit minta DIMUTASI didekatkan dengan daerah asal atau alasan mengikuti SUAMI dan lain sebagainya. 8) :zzz

Syukron wal'afwu.
Reply
 
 
# Abdul Malik - PA. SoE 2012-04-25 09:11
Hakim, baik pria maupun wanita resikonya sama, salah ucap dalam memutuskan perkara bisa fatal dalam pertanggungjawabannya.
Reply
 
 
# Izzami PA.Ma-Bulian 2012-04-25 09:26
Apa yang dikatakan pak Masalan Bainon benar adanya, saya adalah salah satu dari 23 pegawai yang dipimpinnya (Ibu DRA. LISDAR Ketua Pengadilan Agama Muara Bulian) merasa terpacu dalam bekerja karena ada rasa malu dan berpikir kok wanita bisa kenapa saya tidak (dalam hal berprestasi)...
Reply
 
 
# umi-pajb 2012-04-25 12:05
Dalam budaya patriarkhi peluang yang diberikan kepada perempuan utk menduduki jabatan masih kecil . Perempuan harus punya capabilitas yg lebih apabila akan bersaing dgn laki-laki pada jabatan yg sama
Reply
 
 
# kang ujang ti kawali 2012-04-25 12:23
sekali layar terkembang kita surut berpantang. sekali kartini tetap kartini. Bravo hakim perempuan. semoga rakyat menikmati kehalusan keadilanmu.
Reply
 
 
# Idia PA Jambi 2012-04-25 13:33
Membaca judul tulisan ini,yang terbayang langsung dalam ingatan saya adalah lagu "Bengawan Solo"nya Gesang.Memang antara judul tulisan dengan judul lagu ada persamaannya.Bengawan Solo dan Perempuan "sedari dulu selalu jadi perhatian insani"..sayangnya hanya jadi perhatian saja,tapi tidak diperhatikan sepenuhnya, terutama dalam memberi peluang jadi pimpinan).

Yang kami inginkan, berikanlah kami kesempatan yang sama untuk berkiprah sesuai kemampuan kami, seperti"air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut ....."

Kepercayaan dari Bapak2 akan menentukan riwayat kami di masa depan. Kami ingin pada hari2 Kartini mendatang, judul tulisan tidak lagi "Hakim Perempuan di Peradilan Agama riwayatmu kini", tapi "Hakim Perempuan di Peradilan Agama Kiprahmu kini"...Semoga, Insya Allah !! Terimakasih pak Hermansyah, sudah mengingatkan kita semua akan keberadaan Kami.salam..
Reply
 
 
# Mulyadi Pamili, Gorontalo 2012-04-26 07:56
Perlu diakui bahwa perempuan juga memiliki kemampuan intelektual dan kecerdasannya yang tidak kalah dari kaum laki-laki. tp meski demikian, diharapkan janganlah kaum perempuan, apa lagi yg Hakim, keluar dari kodratnya sebagai seorang perempuan. Karena merasa diri sama dengan laki-laki, maka ketika dirumah menempatkan suami sebagai pembantu, dan bahkan tidak mengjhargai suaminya lagi. Karena pernah ada kejadian, karena merasa diri sebagai Hakim., meski suaminya seorang Ketua PA, namun dihadpan pegawai lain, si istri membentak suaminya, apa lagi kalau ada masalah dari rumah.... si suami karena merasa diri sebagai ustadz, maka memili sikap diam, namun sebagai pimpinan, dia kehilangan wibawa dan kehormatannya sebagai Ketua apa lagi sebagai suami.
Reply
 
 
# R. A. Said 2012-04-26 08:57
Sedikit atau banyaknya hakim wanita tergantung dari kemampuan dan kemauan kaum wanita itu sendiri, karena setiap penerimaan cakim, wanita tidak dikuota.Di DPR kaum wanita diberi jatah 30 % dari jumlah anggota, ternyata kuotanya tidak mampu dipenuhi.Ayo kaum hawa maju terus...dan terus....
Reply
 
 
# M.Chanif, PTA Makassar. 2012-04-26 14:23
Memang cukup berat resiko yang harus di alami oleh para hakim kaum kartini, dari satu sisi dirinya dituntut untuk bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, melayani suami, mendidik anak, di satu sisi dituntut untuk dapat memenuhi kewajiban sebagai seorang hakim yang dapat menyelesaikan masalah rumahtangga orang lain ( masyarakat pencari keadilan ) itu kalau tempat tugasnya masih satu daerah dengan suami, kalau berjauhan ? aduh pusing memikirkan nasibnya, tidak terbayangkan ! :lol:
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1557 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS