Kamis, 21 Agustus 2014 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!








Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Naskah Pidato Ketua MA dalam Rangka Peringatan HUT ke-69 MA [Revisi]
PENGUMUMAN : Undangan Mengikuti Profile Assessment
| (18/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 19 | (18/8)
PENGUMUMAN : Kenaikan Pangkat Tenaga Teknis Peradilan Agama Periode 1 Oktober 2014
| (15/8)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Usul Kenaikan Pangkat (KP) Dengan Pencantuman Gelar Pendidikan | (11/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 18 | (8/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 17 | (7/8)
VIDEO : Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 H | (28/7)
PENGUMUMAN : Pemberitahuan Kenaikan Pangkat Reguler Tenaga Teknis Periode Oktober 2014
| (25/7)
PENGUMUMAN : Penetapan Hak Akses dan Admin SIMPEG Online di Lingkungan Peradilan Agama | (25/7)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 16 | (24/7)
PENGUMUMAN : Contoh Pembuatan SKP | (24/7)
PENGUMUMAN : Pengiriman Softcopy Berkas Perkara/Putusan Untuk Lomba Pemberkasan Perkara | (23/7)
PENGUMUMAN : Ralat Laporan Sidang Keliling, Prodeo, Posbakum dan pelayanan terpadu | (21/7)
PENGUMUMAN : Petunjuk Teknis Pedoman Pelayanan Hukum | (21/7)




Tambahkan ke Google Reader
Posisi Hilal Kritis Peluang Awal Ramadhan 1433 H Berbeda Oleh: H. A. Zahri, SH | (12/7) PDF Cetak E-mail
Kamis, 12 Juli 2012 10:20

Posisi Hilal Kritis Peluang Awal Ramadhan 1433 H Berbeda

Oleh: H. A. Zahri, SH

(Hakim Pengadilan Agama Situbondo)

Di kalangan umat Islam maupun non Muslim sering muncul pertanyaan, mengapa orang Islam/kelompok Islam satu dengan lainya, bahkan negara Islam satu dengan lainya sering berbeda dalam menetapkan awal Ramdhon, Idul Fitri dan  Idul Adha ? Mengapa tidak ada keseragaman seperti umat Nasrani dalam menetapkan hari Natal ? Seumpama bila Kalender Masehi menentukan tanggal 25 Desember 2012 jatuh hari Selasa, maka dimanapun di seluruh dunia 25 Desember 2012 itu adalah hari Selasa.


selengkapnya KLIK DISINI

TanggalViewsComments
Total290624
Kam. 2110
Sel. 1910
Sab. 1610
Jum. 1510
Kam. 1420
Rab. 1310
 

Comments 

 
# komaruddin, pa banggai 2012-07-12 12:46
selaku ummat islam dan bangsa indonesia, hendaklah saling memahami adanya perbedaan tersebut dan menyadari bahwa meskipun ibadah puasa itu sifatnya mahdhah tapi karena berdimensi sosial dan tujuannya untuk kebaikan hidup berbangsa dan bernegara,atau untuk rahmat, kebaikan seluruh isi alam ini, maka hendaklah tidak menonjolkan sisi perbedaannya.karena hakikat ibadah itu ntuk mengembalikan fitrah manusia pada kejadiannya.
Reply
 
 
# asep dadang pa depok 2012-07-12 16:37
perbedaan bukan untuk dipertentangkan akan tetapi perbedaan merupakan khasanah ilmu untuk senantiasa digali dan saling difahami menuju kesatuan umat
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-07-12 22:36
selaam belum ada standarisasi yg sama antar elemen keagamaan di Indonesia selama itu pula tidak akan ada penyatua dalam mengawali dan mengakhiri ramadhan..
Reply
 
 
# AFFAN PA GRESIK 2012-07-13 12:37
perbedaan pendapat dari ummat islam adalah merupakan rahmat dan kita sesama umat islam jangan saling menyalahkan dan menganggap benar pendapatnya sendiri karena untuk mengerjakan sesuatu amalan agama di Islam tergantung keyakinan dan niatnya
Reply
 
 
# Abd. Salam, PA. Watansoppeng 2012-07-13 13:07
Mestinya untuk menentukan masuknya tanggal 1 qomariyah itu sesuatu yang bisa disepakati. Pihak yang ahli supaya mengajukan alasan-alasan rasionil, lakukan kesepakatan atas pertimbangan yang rasionil. berikan pencerahan kep. masyarakat, pasti mereka (yang awam) akan turut manut. Para elit jangan mbeguguk mutho waton,,, he he he
Reply
 
 
# Muh. Irfan Husaeni/PA Painan 2012-07-13 14:24
Subhanallah saya sangat puas sekali membaca Artikel ini. Artikel yang sangat objektif tidak berpihak dan tidak menghakimi. Luar biasa.
Sangat setuju dengan dengan kata kunci dari Penulis bahwa "Dengan adanya HDL dan IDL ini maka secara ilmiyah tanggal satu qomariyah tidak dapat jatuh pada hari yang sama buat seluruh dunia". Subhanallah ini adalah kebesaran Allah sekaligus rahmat buat umat Islam.
Terimakasih Bapak H. A. Zahri, SH. Buah pikiran Yang Mulia menjadikan saya semakin faham perihal ini semoga para pembaca lebih saling menghormati perbedaan dan lebih toleransi dalam hal ini, amin.
Reply
 
 
# Yusrizal Badilag 2012-07-13 14:27
Hasil perhitungan Majlis Tarjih PP Muhammadiyah adalah ketinggian hakiki yg belum di koreksi...
sedangkan data dari dirjen badilag..sudah menggunakanketinggian mar'i (lihat hilal)yang sudah dikoreksi dengan paralaks dan semi diameter bulan serta refraksi.
paralaks bulan(cos ketinggian hakiki x HP melebihi 50 menit.. hal ini dipakai untuk mengurangi ketinggian hakiki....... jadi bukan sesuatu hal yg tidak lazim sebagai mana dikatakan penulis...wallahu a'lam... fastabiqul khairat
Reply
 
 
# ali.hamdi.73@gmail.com 2012-07-16 10:50
untuk pak yusrizal> apakah setelah bapak koreksi dengan menjadi hilal mar'i, lalu hilal jadi dibawah ufuq begitu, mari kita hitung setelah kita kasih koreksi menjadi mar'i, tentunta hilal tetap positif diatas ufuq, jangan lalu berpendapat begitu, mksh
Reply
 
 
# Taufiq R - PA Tabanan 2012-07-13 14:45
setuju sekali, adanya perbedaan dalam penetapan awal bulan ramadhan, syawal dan zulhijjah bukanlan karena adanya mazhab hisab dan rukyah dengan berbagai alirannya tetapi yang utama adalah faktor ego sektoral serta belum adanya pemerintah yang legitimate. Saudi dan Malaysia bisa bersatu karena pemerintahnya dita'ati (mereka taat pada kaidah "Hukmul Hakim fi mas'alatil ikhtilaf yarfa'ul khilaf")
Reply
 
 
# amin PTA Makassar 2012-07-14 07:38
Perbedaan itu rahmat, selama diletakkan pada proporsi yang sebenarnya. Cuma dalam konteks pelaksanaan ibadah, apa tidak sebaiknya seluruh kelompok rujuk untuk mengedepankan sisi kebersamaan.
Reply
 
 
# Yadi Kusmayadi PA Kota Tasik 2012-07-14 19:33
Ini akibat kesalahan sistem bernegara, semestinya Penentuan awal bulan semestinya diputuskan oleh penegak hukum, yaitu Pengadilan bukan ditetapkan oleh pejabat politik, karena pejabat politik syarat dengan kepentingan, mudah-mudahan kedepan penentuan awal bulan dilakukan oleh sidang pengadilan bukan oleh sidang kementerian agama agar putusannya bisa dipaksakan kepada seluruh umat islam
Reply
 
 
# ahid Lampung 2012-07-15 21:44
Perbedaan adalah rahmat, betul sekali jika itu terjadi pada internal umat Islam. Persoalannya adalah tetangga kita (umat lainnya) akan menilai lain. Percayalah sepanjang umat Islam selalu berbeda dengan prinsipnya masing-masing sepanjang itulah kita selalu dipandang sebelah mata. Mau menggunakan Wujudul Hilal atau Rukyatul Hilal, silahkan pilih jika sudah bulat ikuti oleh semua.Semoga bahan renungan kita bersama.
Reply
 
 
# ujang jamaludin pa kuningan 2012-07-15 22:28
idealnya kaidah : hukmul qadi yarfu'ul khilaf, dan hadits : as-sam'u wa tha'atu 'ala mar'il muslimi fii maa ahabba au kariha maa lam yukmar bimakshiatin, menjadi reasonning utama dalam pembinaan interen ummat Islam Indonesia
Reply
 
 
# Anung S. PA P.Bun 2012-07-16 07:52
Karena beda alat ukurnya, maka berbeda hasilnya. Tidak perlu dipertentangkan tetapi justru akan menjadi rahmat bagi semuanya.
Reply
 
 
# dodi / PA Sijunjung 2012-07-16 09:31
terima kasih kepada penulis H. A. Zahri, SH atas pencerahannya... artikel ini sangat bermanfaat sekali bagi kita..
Reply
 
 
# ali.hamdi.73@gmail.com 2012-07-16 11:11
pak Zahri, bagus sekali tulisannya, ijinkan kami untuk mentelaah beberapa kali, lugas dan terinci itulah yang dapat kita aktakan pada tulisan panjenengan ini, makasih, kita tunggu tulisan-tulisan yang akan datang
Reply
 
 
# Sunardi PA Jambi 2012-07-16 15:17
"Andai kita ada perbedaan dalam memulai Ramadhan tahun ini mari kita saling hormati dan menghargai perbedaan tersebut, mudah2an perbedaan tersebut adalah Rahmat"
Reply
 
 
# Umi-PAJB 2012-07-17 09:46
Perbedaan adalah rahmat, namun jika tdk disikapi dgn bijak akan menjadi akar perpecahan di masyarakat, terima ksh pak zahri
Reply
 
 
# Khafidatul Amanah PA Bima 2012-07-17 09:47
perbedaan pendapat adalah rahmat mari kita mengkormatinya dan jangan diperdebatkan sehingga menimbulkan perpecahan dikalangan umat Muslim.
Reply
 
 
# t@t@.PA.Sri 2012-07-17 12:06
itulah khazanah keilmuan yg terjadi dikalangan ummat muslim, jd dlm hal ini merupakan suatu hal yg sudah lumrah dan tdk perlu diperdebatkan lagi, namun perlu ditelaah n dikaji secara holistik. dalam sepenggal hadist juga dikatakan " Shuumuu liru'yatih..." dasar inilah yg menjadi perbedaan pandangan dalam menentukannya, terlepas dari itu semua tertuju pada Satu tujuan yakni liya'budullah (Bikalimatittauhid)..... Marhaban Yaa Ramadhan 1433 H.
Reply
 
 
# A. Zahri PA. Situbondo 2012-07-18 15:42
Selisih hilal hakiki dan hilal mar'i sekitar 3 menit, tidak sampai drajat.Contoh: Hasil perhitungan sistem ephemiris dengan markaz Situbondo 7º 37' 49.04" LS 114º 02' 17.90" BT adalah: ijtima' akhir Sya'ban 1433 H Kamis 19 Juli 2012, pkl. 11 25 24 wib, terbenam matahari 17 22 27, tinggi hilal hakiki: 1º 47' 15.74", tinggi hilal mar'i: 1º 44' 55.96" , mukus 6 menit 59,73 detik.
Reply
 
 
# ibnu 2012-07-18 17:25
Dalam Al-Qur'an, 10:5 Allah telah memberi petunjuk cara hisab untuk menentukan awal bulan. "Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." Ayat di atas menunjukkan bahwa kata kunci untuk menentukan awal bulan ialah 1) matahari bersinar, 2) bulan bercahaya, dan 3) manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu. Bagi kami, indikator awal bulan adalah bulan telah bercahaya. Karena ada perbedaan karakter antara matahari dan bulan pada ayat tersebut, yaitu matahari bersinar (dliya') bulan bercahaya (nuran) maka kami yakin bahwa jika matahari berapapun ketinggiannya di atas ufuk maka dia telah bersinar. Hal ini berbeda dengan bulan yang bercahaya (nuran) karena bulan baru bercahaya jika berpotensi memantulkan sinar matahari. Bulan akan bercahaya jika sudut datang sinar matahari = sudut pergi atau pantulnya yang sampai ke mata kita. Oleh karena itu tdk setiap bulan berada di atas ufuk dapat bercahaya tapi tergantung dari manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu. Itulah sebabnya unsur ketinggian bulan sangat berpengaruh atas potensi bulan bercahaya. Wallahu a'lam bish-showab.
Reply
 
 
# Kang_Wiji 2012-07-18 17:27
shuumuu liru'yatihii wa aftiruu liru'yatihi,...
Podo puoso;o siro kabeh kerono weruh tanggal siji wulan romadhon,...

hizab untuk patokan, rukyatul hilal lebih afdol kejelasannya,...
Reply
 
 
# nono 2012-07-19 09:58
Allah maha besar,tidak ada 1 sidik jari yg sama,tdk ada garis pd kulit zebra yg sama,justru perbedaan itu fitrah dan tdk menjadi dasar pertentangan. :
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 743 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS